Kamis, 22 Agustus 2013

MAKALAH  ILMU MANTIQ
SILOGISME : KATEGORIK, HIPOTETIK, & DISJUNcTIF




                                                                                                                                   

Disusun                                 :
Ø Muhammad Syahwalan
Fakultas / Program studi   : FUAD/FPPI


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU

KATA  PENGANTAR


           Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ilmu logika yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mau terlibat dan yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.





                                                                                    Bengkulu,  25 April  2013
                                                                                               

                                                                                                     Penyusun                                                


Daftar Isi
  Sampul .....................................................................................................................................      1 
  Kata pengantar  ............................................................................................................................. 2      
  Daftar Isi ....................................................................................................................................... 3      
  Bab I Pendahuluan ....................................................................................................................... 4      
  Bab II Pembahasan  ...................................................................................................................... 5      
  Penutup .....................................................................................................................................     9
  Daftar Pustaka .............................................................................................................................. 9    



BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah
            Banyak hal yang perlu kita pelajari di dunia ini, salah satunya bagaiman cara kita berfikir, menurut Descartes “ cargo eco sum” yang artinya bahwa manusia yang dikatakan hidup itu merupakan manusia yang mau berfikir dan menggunakan semua kemampuannya untuk berfikir
            Pada pembahasan kali ini, kami pemaeri lebih memberikan penekanan pada bagian bagaiman cara kita berfikir dalam mengambil suatu srti atau konklusi terhadap pernyataan yang ada. Di sini akan dijaabaakan apa itu silogisme, baik yang kategork, hipotetik maupun disjungtif. Untuk lebih jelasnya mari kita simak seksama pembahasannya di bawah ini.
B. Rumusan masalah
Terkait dengan materi kami mengenai pembahasan silogisme, maka kami sebagai insan yang serba kekurangan dalam memahami itu sendiri, maka dari itu kami penulis memberi batasan rumusan masalah sebagai berikut.
         Apa itu silogisme kategorik?
         Apa itu silogisme hipotetik?
         apa itu silogisme disjungtif?
C. Tujuan.
            Hal yang menjadi dasar dari pembuatan makalah ini adalah hanya ingin berbagi sedikit pengetahuan mengenai apa itu silogisme kategorik, hipotetik dan disjungtif.   Harapan kami semoga dengan kita belajar mengenai hal ini  semoga bisa lebih mengetahui hal tersebut.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Silogisme Kategorik
1.      Pengertian
Penyimpulan dedukasi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik-teknik; silogisme kategorik baik melalui bentuk standardnya maupun bukan (Entimem dan Sorite), silogisme hipotetik , silogisme disjunctive maupun melalui dilema.
      Kalau permasalahan edukasi oleh sebagian ahli logika disebut penyimpulan langsung (immediate inference) maka silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung (mediate inference). Dikatakan demikian karena dalam soligisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintetis dari dua permasalhan yang dihubungkan dengan cara tertentu , yang tidak terjadi dalam penyimpulan melalui Eduksi.
      Aristoteles membatasi ssilogisme sabagai : argument yang konklusin diambil secara pasti  dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainnan[1]. Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan bukanlah proposisi yang dapat kita nyatakan dalam bentuk oposisi, melainkan proposisi yang memiliki hubungan independent. Bukan sembarang independet, melainkan mempunyai term persamaan. Dua permasalahan dapat kita tarik daripadanya konklusi  manakala mempunya term yang menghubungkan keduannya. Term ini adalah mata rantai yang memungkinkan kita mengambil sintesis dari permasalhan yang ada. Tanpa term persamaan itu maka konklusi tidak dapat kita tarik.
      Silogisme kategorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategorik. Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan panngkalan khusus tidak berarti bahwa proposisi harus particular atau singular , tetapi bisa juga proposisi universal,tetapi ia diletakkan dibawah aturan pangkalan umumnya. Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umunya, tetapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya. Dengan demikian satu pangkalan khusus dan satu pangkalan umum dapat dihubungkan dengan berbagai cara, tetapi hubungan itu harus diperhatikan kualitasa dan kuantitsanya agar kita dapt mengambil konklusi yang valid.
      Sekarang ari kita prektekan bagaiman dua permasalahan dapat menghasilkan kesimpulan yang absah:
      Semua manusia tidak terlepas dari kesalahan
      Semua cendikiawan adalah manusia
      Pangkalan umum disini adalah proposisi yang pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier “semua” untuk menegasakan adanya sifat yang berlaku bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan khususnya aadalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia jberada di bawah aturan pernyataan pertama sehingga dapat kita simpulkan : semua cendikiawan tidak lepas dari kesalahan.
      Jika pangkalan khususnya berupa proposisi singular, maka prosedur penyimpulannya juga sama sehinngga pernyataan :
      Semua mahasiswa adalah terdidik
      Hasan adalah mahasiswa
Maka kseimpulannya adalah : Hasan adalah terdidik.
      Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan pangkalan khusus disebut premis, sedangkan proposisi yang dihasilkan dari sintesis kedua premisnya disebut kesimpulan dan term yang menghubungkan kedua premis disebut dengan term penengah (middle term). Premis  yang yang termnya menjadi subjek pada konklusi desebut premis minor. Premis yang termnya menjadi predikat disebut premis mayor. Dikatakan demikian karena predikat selalu lebih luas dari subjeknya.         
      Semua manusia akan mati
      Plato adalah manusia
      Plato akan mati
      ‘semua manusia akan mati’ adalah premis mayor, ‘Plato adalah manusia’ adalah premis minor dan ‘Plato akan mati’ adalah konklusi, sedangkan manusai adalah term penengah.
2.      Hukum-hukum Silogisme
a.       Apabila dalam satu premis partikular , kesimpulan harus partikular juga
b.      Apabila salah satu premis negatif maka kesimpulan harus negatif juga
c.       Dari dua premis yag sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
d.      Dari dua premis yang sama-sama negatif tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubugkan kedua proposisi premisnya.
e.       Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak kesimpulan menjadi salah.
f.       Term peneggah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
g.      Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subjek, term predikat dan term middle. 
3.      Absah dan Benar
Absah(valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sama dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di atas dan dikaatakan tiak valid apabila sebaliknya.
Benar berkaitan dengan perposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai fakta atau tidak. Bila sesuai dengan fakta maka proposisi itu benar, namun jika tidak maka salah.
Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak dapat terpisahkan. Untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar dari prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Mengapa demikian? Kaarena bisa terjadi : dari premis salah dan prosedur yang valid menghasilkan konklusi yang benar, demikian juga dari premis yang salah dan prosedur invali menhasilkan konklusi yang bena.
a.       Prosedur valid, premis salah konklusi benar
b.      Prosedur invalid premis benar konklusi salah
c.       Prosedur valid premis salah dan konklusi salah
Konklusi silogisme hanya bernilai manakala diturunkan dari premis yang benar dan prosedur yang valid.
4.      Bentuk-bentuk silogisme
Bentuk silogisme dibagi atas letak medium(term penengah =middle term) dalam premis. Ada 4 macam bentuk silogisme yaitu :
Figur I: medium menjadi subjek pada premis mayor dan menjadi predikat premis pada premis minor
Figur II : medium menjadi predikat baik pada premis mayor maupun premis minor
Figur II : medium menjadi subjek pada premis mayor maupun premis minor
Figur IV : medium menjadi predikat pada premis mayor dan menjadi sibjek pada premis minor
5.      Silogisme bukan bentuk baku
Kelainan pada bentuk stendard dapat terjadi karena:
a.       Tidak menentu letak konklusinya
b.      Atau di sana seolah-olah terdiri atas lebih dari tiga term
c.       Atau hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau hanya terdapat satu premis atau stu konklusi
d.      u hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau hanya terdapat satu premis atau stu konklusi
e.       atau karena perposisinya lebih darii tiga
B.     Silogisme Hipotetik
1.      Adalah argumen yang premis mayornya berupa preposisi hiptetik, sedangkan premis minornya merupakan preposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term actecedent atau term konsekuen premis mayornya.Pada silogisme hipotetik term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian anteseden dan mungkin pula bagian konsekuennya. Tergantung oleh bagian yang diakui atau dipungkiri  oleh premis minornya. Kita menggunakan istilah itu secara analog, karena premis pertama mengandung permasalahan yang lebih umum, maka kita sebut premis mayor, bukan karena ia mengandung term mayor. Kita mnegguanakan istilah premis minor , bukan karena ia mengandung term minor, tetapi lantaran memuat pernyataan yang lebih khusus.[2]Ada 4 macam bentuk silogisme hipotetik :
a.       Silogisme hipotetik yang premis minornya yang mengakui bagian antecedent
b.      Silogisme hipotetik yang premis minornya yang mengakui bagian konsekuennya
c.       Silogisme hipotetik yang premis minornya yang mengingkari antecedent
d.      Silogisme hipotetik yang premis minornya yang mengingkari bagian konsekuennya.
2.      Hukum-hukum silogisme hipotetik
Mengambil konklusi dari s hipoteti jauh lebih mudah dari kategorik yang penting disini adalah menentukan kebenarannya, bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
            Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme Hipotetik adalah :
a.       Bila A terlaksana maka B juga
b.      Bila A tidak terlaksana maka B juga
c.       Bila B terlaksana maka A terlaksana
d.      Bila B tidak terlaksan maka A tidak terlaksana
C.     Silogisme disjungtif
Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif sedangkan premis minornya keputusan kategorik yang mengingkari atau mengakui salah satu alternatif yang disebut premis mayor. Seperti halnya silogisme hipotetik, istilah premis mayor dan minor disini adalah analog bukan penggunaan semestinya.[3]
Silogisme ini terbagi menjadi dua yakni silogisme dijungtif dalam arti sempt dam silogisme disjungtif dalam arti luas. Silogisme dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif. Sedangkan silogisme dalam arti luas mayornya mepunyai alternatif bukan kontradiktif. Silogisme dijungtif dalam arti sempit maupun luas mempunyai dua tipe :
A.    Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui alternatif yang lain
B.     Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.
Hukum – hukum silogisme Disjungtif
1.      Silogisme dijungktif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penympulannya valid
2.      Silogisme dalam arti luas kebenaran konklusi nya adalah sebagai berikut :
a.       Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah
b.      Bila premis minor mengingkarii salah satu alternatif, konklusnya tidak sah.

PENUTUP

Kesimpulan
Penyimpulan dedukasi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik-teknik; silogisme kategorik baik melalui bentuk standardnya maupun bukan (Entimem dan Sorite), silogisme hipotetik , silogisme disjunctive maupun melalui dilema.
      Kalau permasalahan edukasi oleh sebagian ahli logika disebut penyimpulan langsung (immediate inference) maka silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung (mediate inference). Dikatakan demikian karena dalam soligisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintetis dari dua permasalhan yang dihubungkan dengan cara tertentu , yang tidak terjadi dalam penyimpulan melalui Eduksi.
      Aristoteles membatasi ssilogisme sabagai : argument yang konklusin diambil secara pasti  dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yangberlainnan[4]. Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan bukanlah proposisi yang dapat kita nyatakan dalam bentuk oposisi, melainkan proposisi yang memiliki hubungan independent. Bukan sembarang independet, melainkan mempunyai term persamaan. Dua permasalahan dapat kita tarik daripadanya konklusi  manakala mempunya term yang menghubungkan keduannya. Term ini adalah mata rantai yang memungkinkan kita mengambil sintesis dari permasalhan yang ada. Tanpa term persamaan itu maka konklusi tidak dapat kita tarik.

Daftar Pustaka
Mundiri. Logika. Rajawali Pers : Jakarta



[1] Richard B, Angel, REASSONIG AND LOGIC ,New York Appleton Century Craft, 1964.hlm 42
[2] Raymond J. McCall, op. Cit. Hlm. 176.
[3] Tentang disjungtif liihat ibid hlm 183-187
[4] Richard B, Angel, REASSONIG AND LOGIC ,New York Appleton Century Craft, 1964.hlm 42

Tidak ada komentar:

Posting Komentar