Senin, 03 Desember 2012

Perang salib


A.      Sebab-sebab Perang Salib
Ada beberapa factor yang memicu terjadinya pristiwa ini. Adapun yang menjadi factor utama yang menjadi penyenbab terjadinyaPerang Salib ada 3 hal yaitu Agama, Politik dan social ekonom[1]i.
1.       Factor  Agama
Sejak Dinasti Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Farthimiyah pada tahun 1070 M, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah kesana karena penguasa Saljuk manetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang ziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang Saljuk yang fanatic. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Saljuk sangat berbeda dari para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.
2.       Factor Politik
Kekalahan Binzantium sejak 330 disebut konstantinopel (Istambul) di Minzikart wilayah Armenia , pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil kebawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comnenus(kaisar Konstantinopel)yang menjadi Paus antara tahun 1088-1099M dan dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaanya di daerah pendudukan Dinasti Saljuk. Paus Urbanus II siap membantu Bizantium karena adanya janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani da Roma. Di lain pihak kekuatan lslam pada waktu itu sedang melemah sehingga orang Kristen di Eropa berani untuk ikut ambil bagian dalam perang Salib. Situasi yang demikian mendorong para penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah kekuasaan Islam seperti dinasti Kecil di Edessa dan Baitul Maqdis.
3.       Factor Sossial Ekonomi
Pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venesia, Genoa , dan Pisa., berambisi untuk menguasai seluruh kota dagang di sepanjang pantaim timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menaggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan mereka  apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinka karena jalur eropa akan bersambung dengan rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut. Oleh Karena itu ketika mereka di Mobilisasi oleh puhak pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik apabila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan melibatkan diri dalam perang tersebut.
B.      Periodesasi Perang Salib
Menurut Philip K Hitti dalam The Arrabs A Short History, pembagian perang salib adalah sebagai berikut :
1.       Periode Pertama
Jalinan kerja sama antara Kaisar Alixus  I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (26 November 1095 M). Menurut  penelitian dia , pidato ini kemungkinan pidato yang paling berkesan sepanjan sejarah yang telah dibuat Paus. Pidato ini menggema ke seluruh penjuru Eropa yang memebangkitkan seluruh Negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk melakukan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti berbagai kalangan masyarakat.
Pada musim semi tahun1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Prancis dan Norman berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara perang salib yang dipimpin oleh Goldfrey, Bahemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangana besar.  Pada tahun 1127 M muncul Imaduddin Zanki seorang pahlawan Islam termasyur dari Mousul yang dapat mengalahkan tentara salib di kotya Aleppo Hamimah dan Edessa. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama kali yang disusul dengan kemenangan selanjutnya sehingga tentara salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan namu pada tahun 1046 M ia menutup usia.
2.       Periode Kedua
Wafatnya lmaduddin Zanki membangkitkan anaknya Nuruddin Zanki untuk melanjutkan tugas sang ayah melanjutkan perjuangan membela agama. San anak berhasil merebut kambali Antiochea tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali. Jatuhnya Edessa ini menyebabka orang-orang Kristen mengobarkan perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif ileh raja Perancis Louis VII dan Raja Jerman Codrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Tapi tidak berhasil. Kemudian pasukan Islam dapat merebut kawaqsan Yerusalem. Jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan muslim sangat memukul perasaan tentara Salib.
3.       Periode ketiga 
Dalam periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita lslam yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar Ad-dur. Ia berhasil menghancurkan pasukan Raja Louis IX dari Prancis dan sekaligus menangkap raja tersebut. Wanita gagah perkasa ini mampu menunjukan sikap kebesaran lslam dengan membebaskan dan mengizinkan Raja Louis kembali ke negerinya Prancis. Namun walaupun umat lslam telah berhasil memepertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib namun kerugian itu sangat banyak. Kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik kaum muslimin menjadi lemah.
C.       Dampak Perang Salib
Apabila diperhatikan dampak daripada Perang Salib itu adalah lebih banyak menguntungkan dunia Barat apalagi dibandingkan dengan dunia Timur khususnya ummat Islam. Ummat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo. Secara umum bagi umat Islam sebagaimana disebutkan oleh Yusuf Qardhowi, Perang Salib adalah merupakan fitnah bagi ummat Islam. Sedangkan bagi orang Kristen yang dalam hal ini dunia Barat, bisa disebut sebuah “rahmat” sebab dengan Perang Salib ini telah membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan dunia Barat pada umumnya. Dan bahkan Perang Salib ini mengantarkan kebangkitan  di Perancis.
Perang Salib telah menimbulkan dampak-dampak penting dalam sejarah perkembangan dunia karena telah membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam yang telah lebih dahulu maju dan berperadaban, sementara Eropa / Barat berada dalam abad kegelapan. Melalui inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin. Kemajuan orang Timur yang progresif dan maju pada saat itu menjadi daya dorong yang besar bagi pertumbuhan intelektual Eropa / Barat. Hal itu memerankan bagian yang penting bagi timbulnya kebangkitan di Eropa.
Dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya Perang Salib itu bagi dunia Barat dapat dilihat dalam kenyataan berikut ini :
1. Secara kultural, pasukan Perang Salib di Timur menjumpai beberapa aspek yang menarik dari kehidupan Islam. Ketika pasukan tersebut kembali ke tempat asal mereka, mereka berusaha untuk menirunya. Sejumlah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Latin dikerjakan di wilayah-wilayah di mana Perang Salib berlangsung.
2. Gagasan Perang Salib memberi kontribusi kepada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika oleh Colombus dan ditemukannya rute perjalanan laut ke India dengan mengelilingi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope). Akibatnya orang Barat menyadari bahwa selain adanya negara-negara Islam dan Barat, ada juga negara-negara lain yang bukan negara Islam dan bukan negara Barat.
Adapun dampak positif lainnya bagi dunia barat dengan adanya Perang Salib adalah menambah keuntungan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Perang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasaikan beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam pada masa sebelumnya. Hal ini lebih banyak terutama berkaitan dengan masalah-masalah seni, industri, perdagangan dan pertanian.
Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sesungguhnya dunia Barat berhutang budi pada ummat Islam, hanya saja utang budi ini tidak pernah diakui oleh dunia Barat secara terbuka kepada ummat Islam. Sikap ini berbeda dengan sikap ummat Islam yang secara terbuka dari dulu mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dipinjam dari India, kimia dipinjam dari Cina, dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.
Ketidakmauan mengakui utang ini pada ummat Islam menurut Max Dimont, sebagaimana disebutkan oleh Nur Cholis Madjid, orang Barat menderita narcisime, artinya mereka mengagumi diri sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi.













[1] Prof. Dr. azyumardi Azra, M.A., (pemimpin Redaksi),ensiklopedia Islam, jilid 6, Jakarta : Ichtiar Baru Van hoeve,2005,hlm. 154-155

Tidak ada komentar:

Posting Komentar