MAKALAH ILMU MANTIQ
SILOGISME : KATEGORIK, HIPOTETIK, &
DISJUNcTIF
Disusun :
Ø Muhammad Syahwalan
Fakultas / Program studi : FUAD/FPPI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca
dapat memperluas ilmu tentang ilmu logika yang kami sajikan berdasarkan
pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang
dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Walaupun makalah ini mungkin kurang
sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.Penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mau terlibat dan yang
telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami
menyusun makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan
dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Bengkulu, 25 April
2013
Penyusun
Daftar Isi
Sampul ..................................................................................................................................... 1
Kata pengantar ............................................................................................................................. 2
Daftar Isi ....................................................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan ....................................................................................................................... 4
Bab II Pembahasan ...................................................................................................................... 5
Penutup ..................................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka .............................................................................................................................. 9
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang Masalah
Banyak hal yang perlu kita pelajari
di dunia ini, salah satunya bagaiman cara kita berfikir, menurut Descartes “ cargo
eco sum” yang artinya bahwa manusia yang dikatakan hidup itu merupakan
manusia yang mau berfikir dan menggunakan semua kemampuannya untuk berfikir
Pada pembahasan kali ini, kami
pemaeri lebih memberikan penekanan pada bagian bagaiman cara kita berfikir
dalam mengambil suatu srti atau konklusi terhadap pernyataan yang ada.
Di sini akan dijaabaakan apa itu silogisme, baik yang kategork, hipotetik
maupun disjungtif. Untuk lebih jelasnya mari kita simak seksama pembahasannya
di bawah ini.
B. Rumusan masalah
Terkait dengan materi kami mengenai pembahasan silogisme,
maka kami sebagai insan yang serba kekurangan dalam memahami itu sendiri, maka
dari itu kami penulis memberi batasan rumusan masalah sebagai berikut.
•
Apa itu silogisme kategorik?
•
Apa itu silogisme hipotetik?
•
apa itu silogisme disjungtif?
C.
Tujuan.
Hal yang
menjadi dasar dari pembuatan makalah ini adalah hanya ingin berbagi sedikit
pengetahuan mengenai apa itu silogisme kategorik, hipotetik dan disjungtif. Harapan
kami semoga dengan kita belajar mengenai hal ini semoga bisa lebih mengetahui hal tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Silogisme Kategorik
1.
Pengertian
Penyimpulan
dedukasi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui
teknik-teknik; silogisme kategorik baik melalui bentuk standardnya maupun bukan
(Entimem dan Sorite), silogisme hipotetik , silogisme disjunctive maupun
melalui dilema.
Kalau permasalahan edukasi oleh sebagian
ahli logika disebut penyimpulan langsung (immediate inference) maka
silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung (mediate inference). Dikatakan
demikian karena dalam soligisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang
kebenarannya diambil secara sintetis dari dua permasalhan yang dihubungkan
dengan cara tertentu , yang tidak terjadi dalam penyimpulan melalui Eduksi.
Aristoteles membatasi ssilogisme sabagai :
argument yang konklusin diambil secara pasti
dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainnan[1].
Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan bukanlah proposisi yang dapat
kita nyatakan dalam bentuk oposisi, melainkan proposisi yang memiliki hubungan
independent. Bukan sembarang independet, melainkan mempunyai term persamaan.
Dua permasalahan dapat kita tarik daripadanya konklusi manakala mempunya term yang menghubungkan
keduannya. Term ini adalah mata rantai yang memungkinkan kita mengambil
sintesis dari permasalhan yang ada. Tanpa term persamaan itu maka konklusi
tidak dapat kita tarik.
Silogisme kategorik adalah silogisme yang
semua proposisinya merupakan proposisi kategorik. Demi lahirnya konklusi maka
pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal.
Sedangkan panngkalan khusus tidak berarti bahwa proposisi harus particular atau
singular , tetapi bisa juga proposisi universal,tetapi ia diletakkan dibawah
aturan pangkalan umumnya. Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang
berbeda dari pangkalan umunya, tetapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih
khusus dari permasalahan umumnya. Dengan demikian satu pangkalan khusus dan
satu pangkalan umum dapat dihubungkan dengan berbagai cara, tetapi hubungan itu
harus diperhatikan kualitasa dan kuantitsanya agar kita dapt mengambil konklusi
yang valid.
Sekarang ari kita prektekan bagaiman dua
permasalahan dapat menghasilkan kesimpulan yang absah:
Semua manusia tidak terlepas dari
kesalahan
Semua cendikiawan adalah manusia
Pangkalan umum disini adalah proposisi
yang pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier
“semua” untuk menegasakan adanya sifat yang berlaku bagi manusia secara
menyeluruh. Pangkalan khususnya aadalah proposisi kedua, meskipun ia juga
merupakan pernyataan universal ia jberada di bawah aturan pernyataan pertama
sehingga dapat kita simpulkan : semua cendikiawan tidak lepas dari kesalahan.
Jika pangkalan khususnya berupa proposisi
singular, maka prosedur penyimpulannya juga sama sehinngga pernyataan :
Semua mahasiswa adalah terdidik
Hasan adalah mahasiswa
Maka
kseimpulannya adalah : Hasan adalah terdidik.
Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan
pangkalan khusus disebut premis, sedangkan proposisi yang dihasilkan dari
sintesis kedua premisnya disebut kesimpulan dan term yang menghubungkan kedua
premis disebut dengan term penengah (middle term). Premis yang yang termnya menjadi subjek pada
konklusi desebut premis minor. Premis yang termnya menjadi predikat disebut
premis mayor. Dikatakan demikian karena predikat selalu lebih luas dari
subjeknya.
Semua manusia akan mati
Plato adalah manusia
Plato akan mati
‘semua manusia akan mati’ adalah premis
mayor, ‘Plato adalah manusia’ adalah premis minor dan ‘Plato akan mati’ adalah
konklusi, sedangkan manusai adalah term penengah.
2.
Hukum-hukum
Silogisme
a.
Apabila
dalam satu premis partikular , kesimpulan harus partikular juga
b.
Apabila
salah satu premis negatif maka kesimpulan harus negatif juga
c.
Dari
dua premis yag sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
d.
Dari
dua premis yang sama-sama negatif tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena
tidak ada mata rantai yang menghubugkan kedua proposisi premisnya.
e.
Term-predikat
dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya.
Bila tidak kesimpulan menjadi salah.
f.
Term
peneggah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila
term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
g.
Silogisme
harus terdiri dari tiga term, yaitu term subjek, term predikat dan term middle.
3.
Absah
dan Benar
Absah(valid)
berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sama
dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di
atas dan dikaatakan tiak valid apabila sebaliknya.
Benar
berkaitan dengan perposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai
fakta atau tidak. Bila sesuai dengan fakta maka proposisi itu benar, namun jika
tidak maka salah.
Keabsahan
dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak dapat
terpisahkan. Untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari
premis yang benar dari prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Mengapa
demikian? Kaarena bisa terjadi : dari premis salah dan prosedur yang valid
menghasilkan konklusi yang benar, demikian juga dari premis yang salah dan
prosedur invali menhasilkan konklusi yang bena.
a.
Prosedur
valid, premis salah konklusi benar
b.
Prosedur
invalid premis benar konklusi salah
c.
Prosedur
valid premis salah dan konklusi salah
Konklusi silogisme hanya bernilai manakala diturunkan dari premis
yang benar dan prosedur yang valid.
4.
Bentuk-bentuk
silogisme
Bentuk silogisme dibagi atas letak medium(term penengah =middle
term) dalam premis. Ada 4 macam bentuk silogisme yaitu :
Figur I: medium
menjadi subjek pada premis mayor dan menjadi predikat premis pada premis minor
Figur II :
medium menjadi predikat baik pada premis mayor maupun premis minor
Figur II :
medium menjadi subjek pada premis mayor maupun premis minor
Figur IV :
medium menjadi predikat pada premis mayor dan menjadi sibjek pada premis minor
5.
Silogisme
bukan bentuk baku
Kelainan pada
bentuk stendard dapat terjadi karena:
a.
Tidak
menentu letak konklusinya
b.
Atau
di sana seolah-olah terdiri atas lebih dari tiga term
c.
Atau
hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau hanya terdapat satu premis atau
stu konklusi
d.
u
hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau hanya terdapat satu premis atau
stu konklusi
e.
atau
karena perposisinya lebih darii tiga
B.
Silogisme
Hipotetik
1.
Adalah
argumen yang premis mayornya berupa preposisi hiptetik, sedangkan premis
minornya merupakan preposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term
actecedent atau term konsekuen premis mayornya.Pada silogisme hipotetik
term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya,
mungkin bagian anteseden dan mungkin pula bagian konsekuennya. Tergantung oleh
bagian yang diakui atau dipungkiri oleh
premis minornya. Kita menggunakan istilah itu secara analog, karena premis
pertama mengandung permasalahan yang lebih umum, maka kita sebut premis mayor,
bukan karena ia mengandung term mayor. Kita mnegguanakan istilah premis minor ,
bukan karena ia mengandung term minor, tetapi lantaran memuat pernyataan yang
lebih khusus.[2]Ada
4 macam bentuk silogisme hipotetik :
a.
Silogisme
hipotetik yang premis minornya yang mengakui bagian antecedent
b.
Silogisme
hipotetik yang premis minornya yang mengakui bagian konsekuennya
c.
Silogisme
hipotetik yang premis minornya yang mengingkari antecedent
d.
Silogisme
hipotetik yang premis minornya yang mengingkari bagian konsekuennya.
2.
Hukum-hukum
silogisme hipotetik
Mengambil konklusi dari s hipoteti jauh lebih mudah dari kategorik
yang penting disini adalah menentukan kebenarannya, bila premis-premisnya
merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan
dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme Hipotetik adalah :
a.
Bila
A terlaksana maka B juga
b.
Bila
A tidak terlaksana maka B juga
c.
Bila
B terlaksana maka A terlaksana
d.
Bila
B tidak terlaksan maka A tidak terlaksana
C.
Silogisme
disjungtif
Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif
sedangkan premis minornya keputusan kategorik yang mengingkari atau mengakui
salah satu alternatif yang disebut premis mayor. Seperti halnya silogisme
hipotetik, istilah premis mayor dan minor disini adalah analog bukan penggunaan
semestinya.[3]
Silogisme ini terbagi menjadi dua yakni silogisme dijungtif dalam
arti sempt dam silogisme disjungtif dalam arti luas. Silogisme dalam arti sempit
mayornya mempunyai alternatif kontradiktif. Sedangkan silogisme dalam arti luas
mayornya mepunyai alternatif bukan kontradiktif. Silogisme dijungtif dalam arti
sempit maupun luas mempunyai dua tipe :
A.
Premis
minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui
alternatif yang lain
B.
Premis
minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari
alternatif yang lain.
Hukum
– hukum silogisme Disjungtif
1.
Silogisme
dijungktif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila
prosedur penympulannya valid
2.
Silogisme
dalam arti luas kebenaran konklusi nya adalah sebagai berikut :
a.
Bila
premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah
b.
Bila
premis minor mengingkarii salah satu alternatif, konklusnya tidak sah.
PENUTUP
Kesimpulan
Penyimpulan
dedukasi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui
teknik-teknik; silogisme kategorik baik melalui bentuk standardnya maupun bukan
(Entimem dan Sorite), silogisme hipotetik , silogisme disjunctive maupun
melalui dilema.
Kalau permasalahan edukasi oleh sebagian
ahli logika disebut penyimpulan langsung (immediate inference) maka
silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung (mediate inference). Dikatakan
demikian karena dalam soligisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang
kebenarannya diambil secara sintetis dari dua permasalhan yang dihubungkan
dengan cara tertentu , yang tidak terjadi dalam penyimpulan melalui Eduksi.
Aristoteles
membatasi ssilogisme sabagai : argument yang konklusin diambil secara
pasti dari premis-premis yang menyatakan
permasalahan yangberlainnan[4].
Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan bukanlah proposisi yang dapat
kita nyatakan dalam bentuk oposisi, melainkan proposisi yang memiliki hubungan
independent. Bukan sembarang independet, melainkan mempunyai term persamaan.
Dua permasalahan dapat kita tarik daripadanya konklusi manakala mempunya term yang menghubungkan
keduannya. Term ini adalah mata rantai yang memungkinkan kita mengambil
sintesis dari permasalhan yang ada. Tanpa term persamaan itu maka konklusi
tidak dapat kita tarik.
Daftar Pustaka
Mundiri. Logika. Rajawali Pers : Jakarta
[1] Richard
B, Angel, REASSONIG AND LOGIC ,New York Appleton Century Craft, 1964.hlm
42
[2] Raymond
J. McCall, op. Cit. Hlm. 176.
[3] Tentang
disjungtif liihat ibid hlm 183-187
[4] Richard
B, Angel, REASSONIG AND LOGIC ,New York Appleton Century Craft, 1964.hlm
42